SOLIDARITAS KEBERSAMAAN

How Poor We Are ?!

Written on July 3, 2007 – 11:59 pm | by Prasetio |

a story
“How poor we are !?”

Written by SULIS

(sebuah kisah
“Betapa Miskinnya Kita!?”)

(Ditulis oleh SULIS)

“One day a father of a very wealthy family took his son on a trip to the country with the firm purpose of showing him how poor people lived.”
(Suatu hari, seorang ayah dari keluarga yang kaya raya, mengajak anak laki-lakinya bepergian dengan tujuan ingin menunjukkan pada anaknya, betapa kebanyakan penduduk hidup dalam kemiskinan)

They spent a couple of days and nights on the farm, of what would be considered a very poor family.
(Mereka meluangkan waktu menginap selama dua hari dua malam di sebuah persawahan yang sang ayah menganggapnya,sang anak bisa melihat, betapa miskinnya kehidupan seorang didesa itu)

On their return from their trip, the father asked his son,
(Dalam perjalanan pulang sang ayah bertanya pada anak laki-lakinya)
“How was the trip?”
(“Bagaimana kesan kamu tentang perjalanan kita ini ?”)
“It was great, Dad.”
(“Luar biasa ayah pengalaman yang saya saksikan”)
“Did you see how poor people live?” asked the father.
(“Sudahkah kamu saksikan betapa miskinnya kehidupan mereka itu ?”)
The son answered: “I saw that we have one dog and they have four.
(Sang anak menjawab :” Saya melihat kita hanya memiliki seekor anjing dan mereka memiliki empat ekor anjing”).
We have a pool that reaches to the middle of our garden; they have a creek that has no end.
(“Kita memiliki kolam renang yang memanjang sampai ditengah taman kita, mereka memiliki lebah ngarai yang panjangnya tidak terbatas”)
We have imported lanterns in our garden; they have the stars at night.
(Kita mempunyai lampu-lampu import dikebun kita, sementara mereka memiliki dan menikmati bintang-bintang yang indah di malam hari)
Our patio reaches to the front yard, they have the whole horizon.
(Dari teras rumah kita melihat beryard-yard halaman rumah kita yang luas,mereka memiliki halaman sepanjang cakrawala)
We have a small piece of land to live on; they have fields that go beyond their sight.
(“Kita memiliki sebidang tanah untuk hidup, sementara mereka hidup diatas tanah sepanjang mata memandang”)

We have servants to serve us, but they serve others.
(“Kita memiliki pembantu-pembantu untuk melayani diri kita, sedang mereka bersama saling melayani”)
We buy our food, but they grow theirs.
(“Kita membeli makanan kita dan makanan mereka tumbuh dikebunnya”)
We have walls around our property to protect us; they have friends to protect them.”
(“Kita memiliki tembok tebal tinggi mengelilingi rumah untuk melindungi kita mereka memiliki teman dan sahabat yang melindunginya”)
The father was SPEECHLESS.
(Sang ayah terdiam seribu bahasa)
Then his son added, “Thanks, Dad, for showing me how poor we are!”
Kemudian anak laki-lakinya melanjutkan, katanya :”Terimakasih ayah, sesungguhnya ayah telah menunjukkan betapa miskinnya kita!?”)
Isn’t perspective a wonderful thing ? Makes you wonder what would happen if we all gave thanks for everything we have, instead of worrying about what we don’t have.
(Tidakkah ini sebuah pandangan hidup yang menarik? Betapa indahnya hidup kita, kalau kita mampu mensyukuri, menikmati apa saja yang kita miliki dan tidak gelisah atas hal-hal yang kita tidak miliki)
“Appreciate every single thing you have, especially your friends.”
(Hargailah, syukurilah sekecil apapun yang kamu miliki khususnya temanmu….CRF semuanya)

Post a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »
Note: If you want show your avatar, please upload your avatar to gravatar.com

About Me

Prasetio, sosok seorang yang biasa-biasa aja. Pendiem, gokil, hehe Selengkapnya

Find entries :