Archive for the ‘artikel’ Category
Saturday, March 15th, 2008 |
Tadi pagi saya sedikit blogwalking dan mampir ke situs Fatih Syuhud dan Satya Sembiring saya membaca artikel ini dan ini
Roy Suryo. Siapa yang ga kenal beliau yang di kenal sebagai pakar Telekomunikasi di Indonesia. Pada bulan Februari 2008 Roy Suryo berbicara mengenai seputar Trend Blog. berikut apa yg beliau katakan di Detik
Roy dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tidak pernah punya blog. “Tidak, saya tidak pernah nge-blog dan tidak pernah punya blog karena blog sifatnya hanya tren sesaat,” tegas Roy saat berbincang dengan detikINET via telepon, Selasa (26/2/2008).Soal nama ‘Roy Suryo’ dicatut beberapa blogger, Roy mengaku tidak mempermasalahkannya. “Anggap saja blog seperti orang membuang sampah. Saya capek melayani orang kayak gitu. Itulah yang tidak saya sukai dari blog. Blog tidak bertanggung jawab, bahkan blogger itu tukang tipu,” tandasnya.Tukang tipu? Roy mengklaim banyak blogger yang memajang informasi fiktif dan bohong-bohongan, seperti halnya kasus blogger Solo yang meninggal dunia setelah mem-posting mimpinya di blog. Menurut Roy blog tidak bisa dipercaya 100 persen. Roy menyarankan lebih baik jangan mempercayai blog karena saat ini banyak sekali orang yang membuat blog dengan menggunakan nama-nama palsu. Hal ini menunjukkan kredibilitas blog sulit dipercaya.
Blogger adalah Penipu? Saya memang ada setujunya dengan yg beliau katakan bahwa kebanyakan Blogger tidak menggunakan identitas diri sebenarnya dalam membuat blog atau posting, tapi klo di bilang Penipu saya sangat tidak setuju banget. Seperti yang mas satya bilang memang ada beberapa Hoax dalam blog, tapi rata-rata blog yang saya kunjungi semua dapat di katakan Valid kok..
Bagaimana tanggapan para Blogger mengenai perkataan Pakar Telekomunikasi Pak “Roy Suryo”?.
Jadi semakin semangat nih nge-Blog. Go-BLOG !
Posted in Tulisan Tangan, Umum, Uncategorized, artikel | 11 Comments »
Thursday, January 17th, 2008 |
Bila kita akan “berangkat” dari alam ini ia ibarat penerbangan ke sebuah tempat di mana informasi tentangnya tidak terdapat dalam brosur penerbangan, tetapi melalui AL-QURAN dan AL HADIST.
Di mana penerbangan bukan dengan Garuda Airlines, Singapore Airlines, US Airlines atau Saudi Airlines, tetapi Al-Jenazah Airlines.
Di mana bekal kita bukan lagi tas seberat 23 kg, tetapi amalan kita di dunia. Tak lebih tak kurang.
Di mana bajunya bukan lagi Pierre Cardin atau setaraf dengannya, akan tetapi kain kafan putih.
Di mana pewanginya bukan Bulgari, Channel atau Polo, tetapi air biasa yang suci.
Di mana passport kita bukan Indonesia, British atau American, tetapi AL-ISLAM.
Di mana visa kita bukan lagi sekedar 6 bulan, tetapi LAA ILAAHA ILLALLAAH.
Di mana pelayannya bukan pramugari jelita, tetapi IZRAIL dan lain-lain.
Di mana servisnya bukan lagi kelas business atau ekonomi, tetapi sekedar kain yang diwangikan.
(more…)
Posted in artikel, renungan | 3 Comments »
Saturday, November 3rd, 2007 |
Fiuh.. Sialan.. Sekarang anak2 klo sedang bercanda / main ceng²an, anak-anak bilang klo gw anak Pak Moh. Sjukani Dosen Algoritma di Universitas Budi Luhur, sialan emang… hehehehehehe…
Gini ceritanya kenapa gw bisa di panggil anaknya pak Sjukani. Pas Pelajar Algoritma setiap hari kamis emang itu pelajaran puyengnya minta ampun. Di awal pelajaran di kasi soal seperti gini :
“Titik A dan titik B dihubungkan hanya oleh sebuah jalan yang panjangnya = 12000 m. Ali berangkat dari titik A menuju titik B tepat jam 09:00:00 pagi dengan kecepatan tetap 1 m/detik. Tepat pada jam yang sama (09:00:00) Badu berangkat dari titik B menuju titik A dengan kecepatan tetap 5 m/detik. Susun algoritma dalam bahasa C untuk mencetak berapa detik Ali dan Badu bertemu/ berpapasan dijalan.”
(more…)
Posted in Tulisan Tangan, artikel | 3 Comments »
Tuesday, July 3rd, 2007 |
a story
“How poor we are !?”
Written by SULIS
(sebuah kisah
“Betapa Miskinnya Kita!?”)
(Ditulis oleh SULIS)
“One day a father of a very wealthy family took his son on a trip to the country with the firm purpose of showing him how poor people lived.”
(Suatu hari, seorang ayah dari keluarga yang kaya raya, mengajak anak laki-lakinya bepergian dengan tujuan ingin menunjukkan pada anaknya, betapa kebanyakan penduduk hidup dalam kemiskinan)
They spent a couple of days and nights on the farm, of what would be considered a very poor family.
(Mereka meluangkan waktu menginap selama dua hari dua malam di sebuah persawahan yang sang ayah menganggapnya,sang anak bisa melihat, betapa miskinnya kehidupan seorang didesa itu)
On their return from their trip, the father asked his son,
(Dalam perjalanan pulang sang ayah bertanya pada anak laki-lakinya)
“How was the trip?”
(“Bagaimana kesan kamu tentang perjalanan kita ini ?”)
“It was great, Dad.”
(“Luar biasa ayah pengalaman yang saya saksikan”)
“Did you see how poor people live?” asked the father.
(“Sudahkah kamu saksikan betapa miskinnya kehidupan mereka itu ?”)
The son answered: “I saw that we have one dog and they have four.
(Sang anak menjawab :” Saya melihat kita hanya memiliki seekor anjing dan mereka memiliki empat ekor anjing”).
We have a pool that reaches to the middle of our garden; they have a creek that has no end.
(“Kita memiliki kolam renang yang memanjang sampai ditengah taman kita, mereka memiliki lebah ngarai yang panjangnya tidak terbatas”)
We have imported lanterns in our garden; they have the stars at night.
(Kita mempunyai lampu-lampu import dikebun kita, sementara mereka memiliki dan menikmati bintang-bintang yang indah di malam hari)
Our patio reaches to the front yard, they have the whole horizon.
(Dari teras rumah kita melihat beryard-yard halaman rumah kita yang luas,mereka memiliki halaman sepanjang cakrawala)
We have a small piece of land to live on; they have fields that go beyond their sight.
(“Kita memiliki sebidang tanah untuk hidup, sementara mereka hidup diatas tanah sepanjang mata memandang”)
We have servants to serve us, but they serve others.
(“Kita memiliki pembantu-pembantu untuk melayani diri kita, sedang mereka bersama saling melayani”)
We buy our food, but they grow theirs.
(“Kita membeli makanan kita dan makanan mereka tumbuh dikebunnya”)
We have walls around our property to protect us; they have friends to protect them.”
(“Kita memiliki tembok tebal tinggi mengelilingi rumah untuk melindungi kita mereka memiliki teman dan sahabat yang melindunginya”)
The father was SPEECHLESS.
(Sang ayah terdiam seribu bahasa)
Then his son added, “Thanks, Dad, for showing me how poor we are!”
Kemudian anak laki-lakinya melanjutkan, katanya :”Terimakasih ayah, sesungguhnya ayah telah menunjukkan betapa miskinnya kita!?”)
Isn’t perspective a wonderful thing ? Makes you wonder what would happen if we all gave thanks for everything we have, instead of worrying about what we don’t have.
(Tidakkah ini sebuah pandangan hidup yang menarik? Betapa indahnya hidup kita, kalau kita mampu mensyukuri, menikmati apa saja yang kita miliki dan tidak gelisah atas hal-hal yang kita tidak miliki)
“Appreciate every single thing you have, especially your friends.”
(Hargailah, syukurilah sekecil apapun yang kamu miliki khususnya temanmu….CRF semuanya)
Posted in artikel | No Comments »
Wednesday, June 6th, 2007 |
“Bahagia dihari ke 7”
di ilhami dari kisah nyata
yang dituliskan oleh
haydar yahya
Is, seorang penyayang kucing yang sulit dicari tandingannya. Sebagai karyawan harian dengan gaji Rp 25.000.- per hari, ia sisihkan Rp 3.000.- untuk enam ekor kucing kecintaannya. Pagi yang bahagia bagi Is, bila ke enam ekor kucingnya sudah sarapan kenyang dengan menu istimewa, berkumpul mengelilinginya berdesakan berebut duduk dipangkuannya sambil krrrrr…krrrrr menemaninya minum kopi. Dalam keadaan seperti itu, Is seperti menemukan kebahagiaannya yang sulit dimengerti orang lain. Sementara istrinya, hidup bergerak seperti mesin. Tenggelam dalam rutinitas tradisinya bertahun tahun. Sibuk menyiapkan makan pagi bagi anak-anaknya yang segera berangkat sekolah, belanja, memasak, mencuci pakaian, beberes rumah, juga tidak ketinggalan menyiapkan stmj (susu telor madu jahe) buat Is si “abu hurairah”(bhs.Arab Is, si ayah kucing). Begitulah hari-hari dalam keluarga Is, kucing sudah mendapat posisi jauh melampaui hak-haknya.
Memang sudah wataknya, malapetaka, seringkali hadir tidak pernah terbayang sebelumnya. Dalam beberapa hari terakhir, empat dari enam ekor kucingnya mendadak tidak mau makan dengan sebab yang tidak jelas. Is jadi gelisah. Menu khusus dihidangkan. Empat sehat lima sempurna. Susu murni, daging cincang, wortel parut, juga telor. Kucing-kucing itu tetap saja melengos tanpa selera sedikitpun dengan sorot mata yang sayu. Hari-hari berikutnya, gerakannya melemah, tubuhnya makin kurus, tidak lagi lincah seperti biasa. Bahasanya hanya pandangan kosong, seakan hendak mengucapkan selamat tinggal. Is makin bingung. Terpikir oleh Is, kucing-kucingnya ini rupanya stress menahan rindu berat. Memang akhir-akhir ini, Is sering keluar kota mencari tambahan nafkah bagi keluarganya. Karenanya dihari hari kelabu ini, ia menghabiskan waktunya lebih banyak mengurus kucingnya. Ia mengelus-elus, menyodorkan makan, susu, sambil terus membujuk dengan janji-janji. “Tak kan pernah lagi aku meninggalkan “kalian” lebih dari tiga hari”, janjinya dalam hati. Kucing-kucingnya tidak juga menanggapi lagi, sepertinya sudah berketetapan hati untuk terus mogok makan.
“Tidak ada jalan lain, mereka harus dibawa kedokter” katanya. Sang istri yang sejak tadi tekun menyulam, tiba-tiba nyletuk :”Bila kucing-kucing itu dibawa kedokter…itu berarti..”..:”Berarti appaa !” bentak Is dengan suara tinggi. :”Itu berarti bulan ini kita sekeluarga minum teh, kopi tanpa gula, anak-anak juga tidak minum susu…tapi terserahlah” jawab sang istri menahan diri sambil menyalurkan kekesalannya pada sulamannya.
Walhasil, ajal tidak bisa diundur atau diajukan, pada harinya, empat dari enam ekor kucingnya, satu persatu mati selang beberapa jam. Is terpukul berat. Ia merasa bersalah bahkan berdosa. Kini kucingnya tinggal dua ekor. Keruan saja ia curahkan perhatian serba lebih dari hari hari sebelumnya. Seperti kata orang, musibah seringkali datang tidak sendiri melainkan afwaja (bhs.Arab susul menyusul berbondong bondong) mengajak teman temannya.
Dua minggu selepas hari sedih itu, Klepon dan Tiwul, begitu nama kedua kucingnya yang tinggal, mengikuti gejala saudara-saudaranya yang almarhum..mulai mogok makan. Is panic, stress ! Sang istri, meski tegang, berpura-pura tidak tahu apa yang dirasakan suaminya. Diam-diam, ibu tiga anak ini berandai-andai dalam hatinya “Kalau saja dua ekor kucing terakhir ini mati juga, alangkah bahagianya keluarga ini…setidaknya biaya untuk kucing-kucing itu bisa di alihkan untuk rekreasi keluarga di akhir minggu. Juga Mirna, anak bungsunya akan sempat mendapat elusan ayahnya…semoga”.
(more…)
Posted in artikel | No Comments »