Bahagia dihari ke 7
Wednesday, June 6th, 2007“Bahagia dihari ke 7”
di ilhami dari kisah nyata
yang dituliskan oleh
haydar yahya
Is, seorang penyayang kucing yang sulit dicari tandingannya. Sebagai karyawan harian dengan gaji Rp 25.000.- per hari, ia sisihkan Rp 3.000.- untuk enam ekor kucing kecintaannya. Pagi yang bahagia bagi Is, bila ke enam ekor kucingnya sudah sarapan kenyang dengan menu istimewa, berkumpul mengelilinginya berdesakan berebut duduk dipangkuannya sambil krrrrr…krrrrr menemaninya minum kopi. Dalam keadaan seperti itu, Is seperti menemukan kebahagiaannya yang sulit dimengerti orang lain. Sementara istrinya, hidup bergerak seperti mesin. Tenggelam dalam rutinitas tradisinya bertahun tahun. Sibuk menyiapkan makan pagi bagi anak-anaknya yang segera berangkat sekolah, belanja, memasak, mencuci pakaian, beberes rumah, juga tidak ketinggalan menyiapkan stmj (susu telor madu jahe) buat Is si “abu hurairah”(bhs.Arab Is, si ayah kucing). Begitulah hari-hari dalam keluarga Is, kucing sudah mendapat posisi jauh melampaui hak-haknya.
Memang sudah wataknya, malapetaka, seringkali hadir tidak pernah terbayang sebelumnya. Dalam beberapa hari terakhir, empat dari enam ekor kucingnya mendadak tidak mau makan dengan sebab yang tidak jelas. Is jadi gelisah. Menu khusus dihidangkan. Empat sehat lima sempurna. Susu murni, daging cincang, wortel parut, juga telor. Kucing-kucing itu tetap saja melengos tanpa selera sedikitpun dengan sorot mata yang sayu. Hari-hari berikutnya, gerakannya melemah, tubuhnya makin kurus, tidak lagi lincah seperti biasa. Bahasanya hanya pandangan kosong, seakan hendak mengucapkan selamat tinggal. Is makin bingung. Terpikir oleh Is, kucing-kucingnya ini rupanya stress menahan rindu berat. Memang akhir-akhir ini, Is sering keluar kota mencari tambahan nafkah bagi keluarganya. Karenanya dihari hari kelabu ini, ia menghabiskan waktunya lebih banyak mengurus kucingnya. Ia mengelus-elus, menyodorkan makan, susu, sambil terus membujuk dengan janji-janji. “Tak kan pernah lagi aku meninggalkan “kalian” lebih dari tiga hari”, janjinya dalam hati. Kucing-kucingnya tidak juga menanggapi lagi, sepertinya sudah berketetapan hati untuk terus mogok makan.
“Tidak ada jalan lain, mereka harus dibawa kedokter” katanya. Sang istri yang sejak tadi tekun menyulam, tiba-tiba nyletuk :”Bila kucing-kucing itu dibawa kedokter…itu berarti..”..:”Berarti appaa !” bentak Is dengan suara tinggi. :”Itu berarti bulan ini kita sekeluarga minum teh, kopi tanpa gula, anak-anak juga tidak minum susu…tapi terserahlah” jawab sang istri menahan diri sambil menyalurkan kekesalannya pada sulamannya.
Walhasil, ajal tidak bisa diundur atau diajukan, pada harinya, empat dari enam ekor kucingnya, satu persatu mati selang beberapa jam. Is terpukul berat. Ia merasa bersalah bahkan berdosa. Kini kucingnya tinggal dua ekor. Keruan saja ia curahkan perhatian serba lebih dari hari hari sebelumnya. Seperti kata orang, musibah seringkali datang tidak sendiri melainkan afwaja (bhs.Arab susul menyusul berbondong bondong) mengajak teman temannya.
Dua minggu selepas hari sedih itu, Klepon dan Tiwul, begitu nama kedua kucingnya yang tinggal, mengikuti gejala saudara-saudaranya yang almarhum..mulai mogok makan. Is panic, stress ! Sang istri, meski tegang, berpura-pura tidak tahu apa yang dirasakan suaminya. Diam-diam, ibu tiga anak ini berandai-andai dalam hatinya “Kalau saja dua ekor kucing terakhir ini mati juga, alangkah bahagianya keluarga ini…setidaknya biaya untuk kucing-kucing itu bisa di alihkan untuk rekreasi keluarga di akhir minggu. Juga Mirna, anak bungsunya akan sempat mendapat elusan ayahnya…semoga”.
(more…)

